Suhail & Sahal, serta Hubungannya dengan Pendirian Masjid Nabawi
| wikipedia/nasir-al-molk |
Makkah & Awal Mula Hijrah
Beberapa tahun kenabian diawali dengan berbagai kejadian yang menyulitkan. Terlepas dari desakan dan diskriminasi kaum Quraisy yang tidak menginginkan kehadiran kepercayaan baru yang berniat untuk menggantikan ajaran lama mereka, lalu kedatangan orang - orang yatsrib yang menyatakan ke islamannya di depan Nabi. Akhirnya keputusan dibuat untuk melaksanakan hijrah.
622 Masehi, awal perjalanan hijrah Nabi dengan kaum murajirin dimulai. 1 tahun berlalu semenjak diutusnya salah seorang sahabat nabi untuk menunaikan tugasnya sebagai pengajar kaidah Islam disana. Sedikit demi sedikit pemeluk Islam yang berada di Mekah saat itu mulai menyusul berangkat menuju Madinah (yatsrib pada saat itu).
Nabi Muhammad SAW. dan Abu Bakr Ash-Shiddiq, sahabatnya. Mereka menjadi gerombolan terakhir keberangkatan pada saat ini. Banyak kejadian tidak terduga, lalu pengejaran kafir Quraisy yang geram karena, beliau ternyata tanpa sepengetahuan mereka, sudah pergi meninggalkan Mekah.
Sekalipun orang-orang Quraisy sudah melakukan persiapan secara matang untuk melakukan pembunuhan kepada Nabi, namun nyatanya gagal total. keberhasilan Ali bin Abu Thalib untuk mengecoh mereka, pun berhasil setelah para Quraisy menyangka beliau pada saat itu ada di kediamannya.
Gunung Tsur, terletak di sebelah selatan Makkah, mengarah ke Yaman. Nabi memilih jalan yang tidak semestinya dilalui. Jaraknya lebih jauh, Nabi memilih jalan ini tidak lain tidak bukan adalah untuk mengecoh Quraisy agar tidak bisa melacak keberadaan mereka. Gunung Tsur memiliki banyak bebatuan besar. Kondisi medan yang tidak mengenakan, bahkan menurut penutur sejarah Abu Bakr, sahabat nabi, dia sempat memapah Nabi dalam perjalanannya.
Peristiwa yang akan terus diingat, di kala persembunyian mereka di dalam sebuah gua disana menjadi titik balik yang menegangkan bagi Abu Bakr. Para Quraisy mencari mereka berdua di setiap jalur di Makkah, dengan beberapa penjaga bersenjata lengkap dan sayembara yang ditujukan kepada siapapun untuk dapat membawa Nabi dan Abu Bakr hidup atau mati. Kekhawatiran Abu Bakr pada saat para penunggang kuda sampai di dekat mulut gua, begitu besar. Diriwayatkan bahwasanya jika saja gerombolan itu melongokkan kepala, saat itu juga posisi mereka diketahui. Namun Allah selalu ada untuk hambanya yang taat, Nabi yang menenangkan Abu Bakr, setelahnya keajaiban tidak ditemukannya mereka pada akhirnya menjadi bagian dari sejarah.
Keadaan Madinah & Akhir dari Penantian
8 Rabi'ul Awwal 622 Masehi, Berada di Quba. Tatkala para penduduk Madinah mengetahui adanya informasi tersebut. Semuanya, setiap pemuda - pemudi, orang tua dan anak - anak mereka keluar dari rumah - rumah mereka menanti kedatangan Sang Rasulullah. Antusiasme mereka begitu mendalam, Suhail & Sahal, kedua anak ini, pun masuk di dalamnya. Setiap pagi mereka keluar menuju tanah lapang menunggu kedatangan beliau. Lalu mereka pulang tatkala panas matahari menyengat di siang hari.
Pada suatu hari, seorang yahudi yang sedang naik ke atas benteng. Tidak sengaja dia mendapati kilasan gerombolan putih tampak dari kejauhan. Tak kuasa menahan diri orang itu berteriak "Wahai semua orang Arab, itulah kakek kalian yang kalian tunggu - tunggu"(Shahih Al-Bukhari, 1/555). Seketika mereka, pun keluar rumah untuk menyongsong dan menyambut sosok yang dirindukannya. Orang - orang Anshar belum pernah melihat Nabi, tak ayal mereka keliru dan mengira bahwa Abu Bakr itu yang mereka cari. Tatkala panas matahari mengenai beliau, maka Abu Bakr segera memayungi beliau dengan mantelnya. Pada saat itulah mereka baru tahu Rasulullah.
Tidak ada hari yang lebih membahagiakan dari hari itu di Madinah sebelumnya. Penantian mereka atas Sosok yang dipuja & dicintainya. Kenyataan bahwa keberadaan Nabi adalah awal dari meredanya pertumpahan darah sesama suku di Madinah adalah secuil dari faktor yang menyebabkan rasa rindu itu meluap pada diri mereka. Hari dimana Madinah dimasuki oleh Nabi itulah hari dimana Yastrib berubah nama menjadi Madinatur Rasul dan disingkat menjadi Madinah.
Sepetak Tanah
Semua rumah dan jalan dipenuhi suara tahmid dan taqdis (pengkudusan). Tak ada satupun rumah yang dilalui Nabi melainkan mereka meminta kepada beliau untuk singgah ke rumahnya. Beliau bersabda, "Berilah jalan kepada onta ini, karena ia adalah onta yang sudah diperintah." Onta beliau terus berjalan hingga tiba di suatu lahan kosong, tempat itu adalah tempat untuk menjemur kurma oleh Suhail & Sahal.
Dua anak yatim dibawah penjagaan Sa'ad bin Zurarah. "...Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berhenti di tempat tersebut dan berkata,"Insya Allah di sinilah tempat tinggal Saya." Kemudian beliau berbincang dengan kedua anak yatim tersebut untuk bernegosiasi mengenai harga tanah tersebut, karena tempat tersebut hendak didirikan masjid. Keduanya menjawab "Tidak perlu wahai baginda, kami mengibahkannya untuk baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam." Namun beliau enggan menerima hibah dari dua anak yatim tersebut. lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membeli dari keduanya, dan didirikanlah masjid disana. Mulailah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan batu pertama sebagai pertanda pembangunan dimulai." (HR. Bukhari, no. 3906,
lihat Fath Al-Bari, 7:239-240).
Masjid Nabawi
Masjid yang indah dan megah yang awalnya ternyata berasal dari sebuah lahan kosong tempat penjemuran kurma milik kedua anak yatim,Suhail & Sahal. Dibangun dalam kurun waktu 7 bulan, dengan berbagai bahan sederhana, Masjid Nabawi ini akhirnya selesai dengan pelepah kurma sebagai penyangga atapnya. Saat itu luasnya 30,5 meter (100 ft) × 35,62 meter (116,9 ft) dengan tinggi mencapai 3,6 meter.
Penyesuaian dengan penambahan kontruksi secara struktural mulai gencar setelah diawali oleh Abu Bakr pada masa kekhalifahannya selepas sepeninggal Nabi, semua ini menjadikan Masjid Nabawi seperti apa yang kita saksikan di hari ini. Beberapa campuran arsitektur bergaya utsmani dan sajian payung - payung besar yang megah karya tangan terampil arsitek Jerman, Mahmoud Bodo.
Tanda Kasih
Sepintas hanya sedikit hal yang dapat kita ketahui mengenai Suhail & Sahal. Namun jejaknya dalam sejarah tidak mungkin pernah bisa kita lupakan begitu saja. Allah Yang Maha Mengetahui, dialah yang menuntun Nabi hijrah ke Madinah, sekaligus menghendaki pendirian Masjid Nabawi. Namun melalui perantara dari kedua tangan anak ini kita sudah sepatutnya memberikan Terima Kasih yang mendalam.
Kemegahan yang kita saksikan saat ini tidaklah lepas dari kehadiran tangan - tangan kecil mereka. Sosok yang tampak tidak mencolok namun begitu berarti dalam memberikan dampak yang luar biasa di kemudian hari.
Komentar
Posting Komentar