Bayangkan, Kamu saat ini dihadapi banyak tugas yang harus dikerjakan. Tuntutan tenggat waktu, membuat kamu bersikap lebih agresif & mulai membuka lembar demi lembar berkas kerja. Sayangnya rasa kantuk langsung menyambut. 'menguap'. Padahal baru sebentar, lalu beberapa saat kemudian ada notifikasi tuh di ponsel kamu. (buka nggak ya, buka aja deh). Ada banyak status terbaru di Sosmed, sepertinya seru kalau lihat sedikit. "Oh iya". Pekerjaan kamu terlantar. "nggak boleh", Lanjut kerja. Beberapa saat setelahnya, notifikasi ponsel kembali aktif. Kamu penasaran ingin mengeceknya. "buka aja deh". Ternyata Chat teman kamu. kerjaan atau chat. "chat dulu deh sebentar". 2 jam berlalu.
Hal semacam ini bisa menjadi kendala buat produktivitas Kamu. Tapi memang apasih cara supaya bisa mensiasati rasa malas & suka menunda?. Sebenarnya ada loh studi yang mendalami mengenai perilaku atau kecenderungan ini. Coba baca lebih lanjut.
Dr Cameron Sepah
Dia merupakan Psikiatri dari University of California, San Francisco (UCSF), Bernama Cameron Sepah. Pengembangan teorinya ini berhubungan dengan kebiasaan yang memicu pelepasan Dopamin. Tujuan Dr Sepah adalah untuk membantu kliennya dari ketergantungan mereka terhadap rangsangan terntentu, seperti chat, dan notifikasi media sosial sehingga memungkinkan otak untuk lebih beristirahat hingga melakukan pemulihan.
FYI.
Dopamin adalah zat kimia di dalam otak yang bisa meningkat kadarnya saat seseorang mengalami sensasi yang menyenangkan. (Halodocs)
Berdasarkan pada Terapi Perilaku Kognitif (CBT), Konsep ini pun menghasilkan sebuah istilah baru yang lebih dikenal orang sebagai "Dopamine Detox" / "Dopamine Fasting". Dr Sepah menjelaskan bahwa membiarkan perasaan kesepian atau bosan atau aktivitas sederhana itu lebih baik dari pada meraih stimulus spontan yang menyebabkan pelepasan dopamin secara cepat. Jadi sederhananya sih jangan mencari kesenangan secara Instan.
Dr. Sepah mengidentifikasi enam perilaku kompulsif sebagai target detoks dopamin:
makan emosional penggunaan internet dan game yang berlebihan perjudian dan belanja porno dan masturbasi pencarian sensasi dan kebaruan narkoba
ref: medicalnewstoday.com
Tapi
Nyatanya Detoksifikasi Dopamin secara keseluruhan itu nggak dimungkinkan atau bisa dibilang mustahil, Karena memang otak manusia itu terus memproduksi hormon Dopamin dari waktu ke waktu.
Walaupun Begitu. Kamu Harus Baca Ini!!
Kamu mungkin nggak bisa menghilangkan sepenuhnya efek Dopamin pada diri kamu itu. Tapi Tenang, Studi mengatakan bahwa Kamu bisa mengontrolnya. Jadi Gimana ya?. PUASA DOPAMIN
“Dokter umumnya setuju bahwa penggunaan Internet yang moderat dan terkontrol adalah yang paling tepat untuk mengatasi masalah ini.”
Selain itu, sebuah penelitian khusus menunjukkan bahwa puasa dopamin dari Facebook selama seminggu membantu siswa mendapatkan kembali 13,3 jam waktu mereka, dan secara signifikan mengurangi gejala depresi sebesar 17%, yang memungkinkan mereka untuk terlibat dalam perilaku yang lebih sehat. dikutip dari medium.com
Kebiasaan Buruk yang biasa Kamu lakukan akan memberikan dosis Dopamin yang tinggi, artinya Kesenangan yang kamu dapat itu Banyak, Kenapa sih? karena biasanya kebiasaan yang menyenangkan itu lebih mudah dilakukan dibandingkan harus mengerjakan Tugas Kamu, secara nggak sadar kamu kebiasaan tuh buat melakukan itu terus menerus dan akhirnya Kamu mengabaikan hal yang lebih penting.
Puasa Dopamin, Secara sederhana melakukan aktivitas dengan dosis dopamin yang rendah. Kamu bisa mendapatkan kesenangan tapi dengan cara yang beda. Maksudnya?, dengan mengurangi kebiasaan yang memicu Kamu untuk malas - malasan dan akhirnya menunda kerjaan Kamu.
Contohnya, jangan buka Sosmed keseringan atau kurangi daftar tontonan Netflix kamu untuk sementara.
Memang bisa dibilang ngeribetin sih, karena kan hak kamu untuk istirahat. Ya kan?.
Tapi, Istirahat itu kan dilakuin kalau habis kerja. Kalau semisal kerjaan kamu tertunda atau bahkan kamu nggak mau kerja karena Alasan ISTIRAHAT itu sih udah berlebihan. Mungkin aja di situasi ini kondisi Dopamin kamu sudah berlebihan ya, Sampai - sampai Kamu udah mentoleransi segala perbuatan yang Kamu lakukan atau bisa disebut kecanduan.
DR Cameron Sepah dalam Tulisannya berpendapat Bahwa hal dibawah ini itu baik memicu pelepasan Dopamin yang sehat.
- Promosi Kesehatan (olahraga, memasak)
- Memimpin (membantu, melayani orang lain)
- Relating (berbicara, mengikat aktivitas)
- Belajar (membaca, mendengarkan)
- Menciptakan (menulis, seni)
Ada Yang Menarik
“Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sumber: https://muslim.or.id/346-keutamaan-puasa.html
Ternyata Berpuasa itu bisa menjaga diri ya. Dibalik Ilmu Sains yang dipelajari Saat ini. Ternyata sedari dulu ketentuannya sudah ada. Berpuasa menjadi tameng yang sebenarnya kuat banget tuh untuk menahan stimulus Dopamin yang menggebu - gebu yah karena hakikatnya Puasa kan bukan hanya dari makan dan minum tapi juga hal - hal yang menyebabkan pembatalannya. disitu tuh juga bisa diselipkan atau disisipkan kegiatan yang baik yang mengisi kada dopamin Kamu dalam batasan yang wajar.
Jadi masih ada cara kok untuk memperbaiki kebiasaan buruk itu, dari yang paling expert sampai paling easy, pilih aja yang mudah dulu ya.
Komentar
Posting Komentar